Beberapa bulan lalu saya sempat menyinggung serial drama Korea terbaik yang sedang tayang di Netflix. Kali ini saya merasa perlu membahas secara khusus salah satu dari daftar saya itu. Ya! Reply 1988!

Drama Korea yang satu ini layak mendapat ulasan tersendiri. Bukan hanya karena Reply 1988 adalah bagian terbaik dari rangkaian Reply 1997, Reply 1994, dan Reply 1988, tapi juga karena isinya yang sangat membumi dan secara apik menyentuh segala aspek kehidupan.

Persabahatan Masa Kecil di Reply 1988

Saya adalah orang yang masih merasakan nikmatnya persahabatan dengan teman-teman seumuran di perumahan tempat saya tinggal. Bisa dibilang juga saya merasakan masa kecil di zaman yang tidak terlalu jauh dari tahun 1988 seperti yang digambarkan dalam Reply 1988. Saya masih ingat waktu itu TVRI menyiarkan secara langsung pembukaan Olimpiade Seoul 1988, jadi ketika serial ini dimulai, kenangan itupun langsung muncul kembali di kepala saya. Ya, Olimpiade Seoul 1988 pasti banyak diingat orang-orang pada zamannya karena pada olimpiade itulah Indonesia untuk pertama kalinya mendapatkan medali.

Penggambaran menonton video beramai-ramai dengan teman juga sebuah nostalgia yang sempat saya rasakan. Saya teringat dulu ada penyewaan kaset video keliling yang pada hari-hari tertentu menyambangi area tempat saya tinggal untuk menawarkan kaset-kaset video dari film-film terbaru. Ibu saya selalu menyewa film-film silat yang serinya bisa sampai puluhan kaset video. Sementara sana dan teman-teman menikmati Voltus V, Megaloman, dan lain-lain juga dari penjaja kaset video yang sama.

Persahabatan masa kecil yang digambarkan oleh Reply 1988 yang juga melibatkan pertemanan di antara para orang tua juga terjadi pada masa itu. Intinya, kisah persabatan ini sungguh nyata digambarkan oleh Reply 1988.

Kedekatan dengan Keluarga

Serial 20 episode ini juga tak kalah apik menggambarkan kedekatan setiap tokohnya dengan keluarga masing-masing. Saya bilang apik karena serial ini berhasil memotret dengan nyata bagaimana kedekatan antar anggota keluarga begitu berbeda antara satu keluarga dengan keluarga yang lain.

Ada anak yang sangat dekat dengan ayah. Ada yang sangat dekat dengan ibu. Ada menunjukkan kedekatan dengan pelukan dan ciuman. Ada juga yang kedekatannya terlihat dingin tapi sesungguhnya kerapatan di antara mereka sangatlah kuat. Sangat menarik untuk ditonton.

Reply 1988
Reply 1988. Sumber: The New Yorker

Dalam hal kedekatan ini, penggambaran bahwa ada banyak orang yang baru bisa menunjukkan emosi kedekatan ketika ada anggota keluarga yang sakit atau meninggal juga tergambar dengan sangat baik.

Kisah Cinta yang Tidak Selalu Terjawab

Dalam sebuah persahabatan, bukan hal aneh bila cinta menyeruak. Dan dalam setiap cinta, tidak semua terjawab. Inipun tergambar indah dalam serial yang tayang perdana pada 6 November 2015 ini.

Rasa cinta yang mulai membingungkan saat sahabat-sahabat ini beranjak dewasa. Rasa cinta yang membuat tanda tanya, benarkah saya mulai melihat teman saya sebagai laki-laki dan perempuan, bukan lagi sebagai teman sepermainan yang bahkan saat masih kecil dulu sering dimandikan bersama oleh para orang tua?

Proses ini begitu menarik untuk disaksikan karena saat itulah kita merasa menjadi bagian dari persabatan para tokoh dalam serial ini.

Kenapa Reply 1988 Bagus

Mari bicara dari segi teknis pertelevisian. Menurut majalah The New Yorker yang terbit pada 29 Mei 2016, serial Reply 1988 memecahkan rekor penonton terbanyak saat episode terakhirnya ditayangkan. Sebuah rekor yang mereka sebut sebagai: “the most viewed season finale in Korean cable-TV history”.

Kalau itu belum cukup, mari kita bahas isi dari serial ini. Bagi saya serial ini jauh dari gambaran drama korea atau drakor yang selama ini muncul dalam benak banyak orang. Tidak ada romantisme yang melow atau saling balas dendam seperti serial drakor lain di sini. Tidak ada juga kematian yang dramatis, perselingkuhan, dan peran penjahat.

Para tokoh dalam serial ini berperan sebagai manusia-manusia biasa dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan yang mungkin tidak meledak-ledak dramatis, tapi layak untuk diikuti karena kedalamannya.

Mengenai hal itu, sutradara yang juga produser serial ini mengatakan pada Korea Herald: “Dalam ingatan saya, di tahun 1988, Korea masih memiliki kehangatan dan keintiman dalam hubungan interpesonal tanpa mempedulikan perbedaan kelas ekonomi, sosial, dan politik. Kami berusaha menggambarkan masa-masa itu dari sisi yang dirasakan oleh orang kebanyakan.”

Terakhir, di saat tema-tema serial dan film semakin hari semakin menggambarkan kehidupan yang serba modern, kekerasan, drama-drama yang maha dramatis, zombie, dan lainnya, saya rasa menonton Reply 1988 cukup membawa angin segar yang menenangkan. Bahwa dulu ada masa di mana manusia yang tidak bertalian darah sekalipun, memiliki rasa kedekatan yang sangat dalam. Mereka saling membantu dan memberi semangat di saat susah. Saling mengantar makanan pada skala harian, bukan hanya saat hari raya saja. Inilah kedekatan dan kehangatan antar manusia yang semakin lama semakin pudar sehingga manis untuk dikenang.

You might also enjoy:

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mastodon